Kamis, 11 Juni 2009

Belajar Dari Permainan Politik Partai Hamas

Kamis, 16/04/2009 10:39 WIB


Bila hendak berpartisipasi dalam sistem kafir Demokrasi ala Barat sudah sepatutnya setiap organisasi, jamaah, da’wah, harokah (gerakan) dan partai Islam di manapun mengambil pelajaran dari permainan politik ala Partai Hamas di Palestina. Sebab secara keseluruhan kita dapati Hamas tidak pernah terjebak oleh sistem non-Islam ini sebagaimana yang banyak dialami oleh berbagai partai Islam di negeri lainnya termasuk Indonesia. Kebanyakan partai Islam bila masuk ke dalam sistem demokrasi gagal menjadikan demokrasi sebatas kuda tunggangan untuk menggolkan tujuan Islam yang agung. Umumnya mereka bukan mewarnai melainkan terwarnai bila sudah ikut dalam permainan politik ala Barat kafir ini. Alih-alih berhasil menawarkan dan memperkenalkan kepada publik cara berpolitik Islam, malah merekalah yang semakin tahun semakin terkooptasi oleh sistem dan ideologi sekularis-nasionalis.

Sedangkan Hamas sejak sebelum memutuskan terlibat dalam Pemilu di tahun 2006 sudah sejak awal memandang "sistem Demokrasi" sebagai sebuah sistem di luar Islam. Jadi jika mereka akhirnya berpartisipasi di dalamnya mereka memastikan diri untuk memperlakukannya sekedar sebuah kuda tunggangan untuk meraih sasaran antara perjuangan Islam. Di dalam "sistem Demokrasi" terdapat unsur mafsadat (kerusakan) dan maslahat (manfaat). Hamas memastikan bila hendak berpartisipasi dalam Pemilu, maka partainya haruslah sudah cukup immune untuk tidak terkontaminasi oleh mafsadat "sistem Demokrasi" dan cukup yakin sanggup memetik maslahatnya. Oleh karenanya Hamas melakukan assessment yang akurat dan teliti mengenai tingkat dukungan masyarakat terhadap ide-ide Partai Hamas. Jika mereka menilai bahwa masyarakat telah cukup kuat menunjukkan dukungan kepada visi dan misi Hamas, maka barulah Hamas bersedia masuk dalam kancah permainan politik. Bila sebaliknya, maka Hamas akan memilih untuk mendahulukan kerja-kerja nyata berupa berbagai aktifitas da’wah, tarbiyyah, sosial-kebajikan dan jihad-perlawanan di tengah grass-root masyarakat Palestina. Dan mereka akan menunda keterlibatannya dalam permainan politik. (Baca: ”Mengapa Hamas Ikut Permainan Demokrasi?” Undangan ke Surga 15/4/09)

Sebab sejak hari pertama Hamas senantiasa menekankan kepada para kader dan pendukungnya bahwa aspek politik merupakan salah satu saja dari sekian banyak aktifitas seorang muslim. Sedangkan da’wah dan tarbiyyah itulah yang merupakan asas gerakan Islam yang hakiki. Dari aktifitas da’wah dan tarbiyyah kontinyu itulah akan dilahirkan para kader handal berikutnya. Tarbiyyah senantiasa dipandang sebagai awal dari segala-galanya walaupun tarbiyyah bukanlah segala-galanya. Dari tarbiyyah akan terbentuklah Syakhshiyyah Islamiyyah Mustaqiimah (pribadi muslim konsisten) yang memiliki aqidah yang kokoh dan fikrah Islamiyyah (pemahaman/ideologi Islam) yang komprehensif dan utuh. Bila di tengah masyarakat ditemukan muslim-mu’min yang ber-aqidah dan fikrah Islam mantap, maka mereka inilah yang akan menjadi pendukung/pencontreng loyal terhadap partai Islam manapun yang juga secara jujur memperlihatkan visi dan misi Islam secara mantap.

Adapun partai Islam pada umumnya hanya mengandalkan apa-apa yang juga diandalkan oleh partai-partai sekular. Mereka akhirnya terlibat dalam berbagai upaya kampanya murahan –maaf- yang hanya mengandalkan para selebritis, pemasangan iklan di TV, pemajangan foto caleg di berbagai tiang listrik, pohon-pohon sampai melibatkan berbagai musisi serta dangdutan. Sedangkan kegiatan utama berupa da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah manhajiyyah (kaderisasi Islam sistemik) di tengah masyarakat tidak memperoleh perhatian yang semestinya. Kalaupun diupayakan kegiatan da’wah dan tarbiyyah, ujung-ujungnya lebih menekankan pada upaya promosi alias kampanye partai Islam terkait. Padahal yang dibutuhkan masyarakat bukanlah fanatisme kepada partai Islam, melainkan kesetiaan kepada nilai-nilai Islam yang abadi dan tidak mengenal batas kelompok dan organisasi buatan manusia.

Hamas menyadari dan meyakini bahwa dukungan masyarakat Islam kepada mereka sangat ditentukan oleh seberapa konsistennya partai Hamas dalam menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam segenap kiprahnya. Sehingga bila da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah yang diselenggarakan oleh Hamas di tengah masyarakat telah mengakar, maka dengan sendirinya dukungan kepada Hamas akan menguat. Namun tentunya dengan syarat bahwa Hamas sendiri menunjukkan komitmen kepada ideologi dan syariat Islam yang katanya mereka perjuangkan itu.

Hal lain yang memastikan dukungan masyarakat ialah keterpaduan Hamas dalam mengelola berbagai program selain da’wah dan tarbiyyah Islamiyyah. Hamas terkenal sebagai sebuah gerakan Islam yang sangat aktif mengadakan kegiatan khairiyyah-ijtima’iyyah (sosial-kebajikan). Hamas sangat peduli dengan nasib rakyatnya seperti para janda dan yatim syuhada, para keluarga yang kepala keluarganya dipenjara Israel, para petani, kaum fakir-miskin, pegawai negeri dan lain sebagainya. Dan para petinggi dan aktifis Hamas sangat terkenal dengan kejujuran dan kebersihan jiwanya. Mereka adalah orang-orang amanah yang dikenal bebas dari korupsi dan penyalah-gunaan dana ummat. Dipadukan dengan kegiatan da’wah dan tarbiyyah, Hamas berhasil merajut ikatan ukhuwwah dan mahabbah (persaudaraan dan kasih sayang) masyarakat Palestina dengan menjadikan Al-Qur’an dan Masjid sebagai perekat utama hati ummat Islam. Hamas menjadikan masjid sebagai tempat dimana masyarakat memperoleh berbagai bantuan baik ekonomi maupun pendidikan.

Lalu melalui aktifitas al-jihad wal-muqowwamah (jihad dan perlawanan) dalam menghadapi penjajah Zionis Yahudi Israel, Hamas berhasil menjadikan masyarakat Palestina menjadi masyarakat yang hubbul-jihad wasysyahadah (cinta jihad dan mati syahid). Sehingga masyarakat di bawah pengarahan dan kepemimpinan Hamas menjadi masyarakat yang memiliki al-’izzah (kehormatan diri) dan terbebas dari penyakit al-wahan (cinta dunia dan takut mati).

Sedangkan di negeri ini berbagai Partai islam justeru meninggalkan komitmen kepada ideologi dan Syariat Islam serta Jihad fi sabilillah. Hal ini mereka lakukan dengan maksud tidak ingin membuat kalangan non-muslim (baca: kafir) lari dan takut akan Islam. Padahal Hamas dengan segala kiprah ”militan”nya tidak pernah terasa menjadi momok yang menakutkan bagi sesama warga Palestina yang beragama Nasrani. Banyak testimony dari kaum Nasrani di Palestina yang menunjukkan penghormatan dan dukungan kepada Hamas. Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa Hamas dengan segala ruhul-jihad-nya jauh lebih baik daripada para politisi korup dari partai Fatah yang sekularis-nasionalis itu.

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.(QS Ali Imran 118-120)

Ya Allah, munculkanlah di tengah ummat ini suatu generasi yang Engkau cintai mereka dan merekapun mencintaiMu. Berlaku lemah-lembut kepada sesama orang beriman dan berlaku tegas/keras kepada kaum kafir. Mereka berjihad di jalanMu tanpa rasa takut akan celaan kalangan yang suka mencela.Amin ya Rabb.

Akibat Mentaati Para Pemimpin Dan Pembesar Sistem Dajjal

Minggu, 03/05/2009 06:36 WIB



Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa setelah ummat Islam melalui babak ketiga era Akhir Zaman dimana yang memimpin adalah para Mulkan ’Aadhdhon (ParaRajayang Menggigit), maka selanjutnya ummat Islam akan mengalami babak keempat dimana yang memimpin adalah para Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa yang Memaksakan Kehendak). Babak kepemimpinan Mulkan ’Aadhdhon merupakan babak dimana ummat Islam dipimpin oleh pemimpin-pemimpin yang masih menamakan dirinya para Khalifah. Artinya, sistem formal kehidupan bermasyarakat dan bernegara masih disebut Khilafah Islamiyyah. Dengan kata lain sistem pemerintahan yang berlaku masih merupakan sistem pemerintahan Islam. Lalu mengapa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebutnya dengan istilah Mulkan (Para Raja)? Sebab dalam pola suksesinya mereka menerapkan sistem warisan kekuasaan. Bila seorang khalifah wafat maka yang menggantikan adalah anaknya. Bila ia wafat maka yang menggantikan adalah anaknya lagi. Demikian seterusnya.

Kemudian apa yang dimaksud dengan istilah ’Aadhdhon (Menggigit)? Yang dimaksud dengan menggigit ialah menggigit Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Para khalifah di babak ketiga masih ”minggigit” dua sumber utama warisan suci ummat Islam. Tapi tentunya berbeda dengan para pemimpin di babak sebelumnya, yaitu babak kedua, yang dijuluki Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai Khilafatun ’Alah Minhaj An-Nubuwwah (Kekhalifahan yang Mengikuti Sistem/Metode Kenabian). Para Khulafa ar-Rasyidin yang mengisi babak kedua bukan ”menggigit” Al-Qur’an dan As-Sunnah, melainkan mereka ”menggenggam” kedua sumber utama tersebut. Ibarat orang mendaki bukit, lalu diberi seutas tali, tentunya lebih aman dan pasti bila ia menggenggam tali tersebut hingga mencapai puncak bukit daripada ia menggigit-nya.

Babak kepemimpinan Mulkan ’Aadhdhon berlangsung sangat lama yaitu sekitar tigabelas abad alias 1300-an tahun. Subhanallah..! Babak ketiga tersebut diawali dengan berdirinya kerajaan Daulat Bani Umayyah. Kemudian diikuti dengan Daulat Bani Abbasiyyah. Lalu terakhir ditutup dengan era Kesultanan Ustmani Turki yang akhirnya runtuh pada Maret 1924 Masehi atau 1342 Hijriyyah. Selama masa yang demikian panjang ummat Islam mengalami aneka jenis pemimpin. Ada di antara mereka yang tercatat dalam sejarah sebagai pemimpin yang sangat adil dan bijaksana seperti Umar bin Abdul Aziz. Beliau sedemikian dihormatinya hingga sebagian ulama menjulukinya sebagai Khalifah Rasyidah kelima sesudah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin ’Affan dan ’Ali bin Abi Thalib. Namun ada pula mereka yang tercatat sebagai khalifah yang zalim sehingga memenjarakan ulama-ulama besar semacam Imam Ahmad bin Hambal. Namun betapapun zalimnya pemimpin di masa itu, tak pernah kita dengar ada seorang ulamapun yang menganjurkan untuk mengadakan pemberontakan terhadap pemerintah resmi. Mengapa? Karena sistem yang berlaku masih merupakan sistem Islam alias Khilafah Islamiyyah. Masyarakat masih bisa berharap bahwa bila pemimpinnya berganti dengan yang adil, niscaya akan terjadi perbaikan keadaan. Yang penting fondasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara tidak keluar dari bingkai Al-Qur’an dan As-Sunnah An-Nabawiyyah.

Hadirnya para Khalifah di babak ketiga yang berlaku zalim di tengah masyarakat inilah yang seringkali menjadi sasaran tembak musuh-musuh Islam untuk menghilangkan keyakinan serta kerinduan ummat Islam akan hadirnya kembali sistem Khilafah Islamiyyah. Para manipulator sejarah itu menggambarkan seolah bila khilafah wujud kembali berarti ummat Islam akan memiliki pemimpin-pemimpin zalim. Seingga kezaliman oknum-oknum khalifah tertentu di masa lalu menjadi justifikasi untuk menggeneralisasi kezaliman sistem Khilafah.

Setelah runtuhnya pemerintahan Islam Khilafah Islamiyyah pada tahun 1924, mulailah ummat Islam memasuki babak keempat era Akhir Zaman yang dijuluki Nabi shollallahu ’alaih wa sallam sebagai babak kepemimpinan Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa yang Memaksakan Kehendak). Pada hakikatnya peralihan kehidupan dari babak ketiga menjadi babak keempat merupakan peralihan dari kepemimpinan Islam dan ummat Islam atas sebagian besar wilayah dunia kepada kepemimpinan kaum kuffar Barat atas sebagian besar wilayah dunia. Sejak saat itu praktis ummat Islam sudah kehilangan tongkat kepemimpinan dunia. Mulailah dunia dipimpin oleh fihak kaum kuffar Barat, dengan Inggris dan Amerika sebagai komandan utamanya.

Perang Dunia pertama merupakan puncak upaya kaum kuffar barat untuk memusnahkan eksistensi Khilafah Islamiyyah Kesultanan Ustmani Turki dari peta dunia. Dan Perang Dunia kedua merupakan puncak upaya kaum kuffar Barat untuk memastikan berdirinya sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang berlandaskan prinsip Nasionalisme alias Kebangsaan. Itulah sebabnya setelah berakhirnya Perang Dunia kedua lahirlah Badan Dunia di bawah kendali penuh kaum kuffar Barat bernama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebagai ganti dari sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara berdasarkan aqidah Islamiyyah berupa Khilafah Islamiyyah, maka dunia selanjutnya diperkenalkan dengan sistem baru kepemimpinan dunia yang berlandaskan Nasionalisme bernama PBB. Sejak hari pertama berdirinya badan dunia ini sudah jelas terlihat adanya diskriminasi dimana beberapa negara kafir barat tertentu memperoleh hak istimewa menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan memiliki hak veto pula.

Jadi saudaraku, perbedaan paling mencolok antara kehidupan ummat islam selama babak pertama, kedua dan ketiga dibandingkan dengan babak keempat ialah bahwa selama ribuan tahun babak-babak tersebut berlangsung ummat Islam masih hidup di bawah sistem yang berlandaskan aqidah semata dan mereka dipimpin oleh sesama saudara berimannya dengan senantiasa mengembalikan berbagai urusan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Masyarakat hidup di bawah naungan Syariat Islam dan merasakan keadilan Hukum Allah. Namun begitu memasuki babak keempat segera tarjadi perubahan fundamental. Masyarakat tidak lagi hidup di bawah naungan Syariat Islam dan tidak lagi merasakan keadilan hukum Allah. Lalu yang memimpin pada skala dunia adalah kaum kuffar, hukum yang berlaku adalah hukum buatan manusia alias hukum Jahiliyyah.

Ketika masih hidup di tiga babak sebelumnya ummat Islam benar-benar merasakan bahwa misi utama mereka hadir ke muka bumi dapat diwujudkan, yaitu pembebasan manusia dari penghambaan sesama manusia untuk hanya menghamba kepada Allah. Sedangkan begitu memasuki babak keempat kembali terjadi penghambaan manusia atas sesama manusia. Kalaupun perasaan menghamba kepada Allah hadir, maka ia hanya berlaku dalam urusan pribadi seperti sholat dan ibadah ritual keagamaan lainnya. Adapun urusan sosial, politik, ekonomi dan budaya seolah berjalan dengan menyingkirkan nilai-nilai penghambaan manusia kepada Allah. Peralihan babak ketiga menjadi babak keempat merupakan bukti kebenaran firman Allah:

إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ

قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

”Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS Ali Imran ayat 140)

Saudaraku, kita sedang menjalani masa kepemimpinan kaum kuffar. Allah telah memutuskan untuk memindahkan giliran kepemimpinan dunia dari orang-orang beriman kepada kaum kuffar. Ini merupakan era paling kelam dalam sejarah Islam. Pada era inilah ummat manusia diperkenalkan (baca: dipermainkan) oleh aneka ideologi buatan manusia. Ada Komunisme, Sosialisme, Kapitalisme, Nasionalisme, Pluralisme, Sekularisme, Liberalisme, Humanisme dan belakangan ini yang paling gencar dipromosikan oleh ”pemimpin dunia” Amerika ialah Demokrasi. Bahkan Demokrasi telah dijadikan alat untuk membedakan mana negeri beradab dan mana yang bukan. Demokrasi menjadi alasan untuk melakukan invasi ke negeri-negeri Islam seperti Irak dan Afghanistan. Demokrasi menjadi alat untuk menentukan apakah suatu negara patut dipuji lalu didekati atau dimusuhi kemudian dijauhi. Demokrasi menjadi alat untuk memisahkan antara kalangan Islam Moderat dengan Islam Fundamentalis.

Pantas bilamana seorang penulis Muslim berkebangsaan Inggris menyebut dunia sejak runtuhnya Khilafah Islamiyyah menjadi laksana sebuah Sistem Dajjal. Sebuah sistem kafir dimana segenap lini kehidupan telah diarahkan oleh nilai-nilai Dajjal. Bertentangan dengan sistem Kenabian yang dibimbing oleh nilai-nilai rabbani ajaran Islam. Dalam dunia modern dewasa ini hampir semua fihak berhasil ”dijinakkan” oleh para pemimpin kafir yang memimpin dunia. Tanpa kecuali negeri-negeri berpenduduk mayoritas muslimpun telah banyak yang berhasil dijinakkan sehingga tunduk kepada kehendak para Mulkan Jabbriyyan tersebut.

Kepemimpinan babak keempat disebut Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dengan julukan Mulkan Jabbriyyan (Para Penguasa yang Memaksakan Kehendak), karena dalam pola kekuasaannya mereka hendak memaksakan kehendaknya seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Bila pemerintahannya bercorak totaliter, maka kehendak penguasanya bersifat individual. Bila pemerintahannya bercorak demokratis, maka kehendak penguasanya bersifat kolektif perpaduan kekuasan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Yang manapun corak pemerintahannya, satu hal yang pasti ialah berlaku di dalamnya penghambaan manusia atas manusia lainnya. Penghambaan masyarakat kepada penguasa individual jika bercorak totaliter. Dan penghambaan masyarakat kepada penguasa kolektif bila bercorak demokratis.

Dalam Sistem Dajjal dunia dewasa ini, barangkali peringatan Allah di bawah ini perlu menjadi renungan kita bersama:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ

وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا وَقَالُوا رَبَّنَا إِنَّا أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا فَأَضَلُّونَا

السَّبِيلَا رَبَّنَا آَتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَابِ وَالْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيرًا

“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami ta`at kepada Allah dan ta`at (pula) kepada Rasul". Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta`ati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.” (QS Al-Ahzab ayat 64-68)

Ya Allah, jadikanlah hati kami condong selalu kepada iman dan jadikanlah iman sesuatu yang indah dalam hati kami. Dan tanamkanlah kebencian di dalam hati kami akan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Amin ya Rabb.-


Mursyid 'Aam Ikhwan : Pidato Obama Tidak Menghapus Kekejaman AS

Senin, 08/06/2009 13:38 WIB


Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin, Dr.Mahdi Akif, menilai kunjungan Obama ke Cairo, Kamis pekan lalu, dan berpidato di Masjid Universitas al-Azhar, dan ditujukan kepada dunia Islam, tak lebih hanyalah untuk membangun citra AS, ucap Mahdi Akif. Menurut Akif. Pidato itu tak akan dapat menghapus ketidak adilan, invasi, kejahatan, agresi dan tumpahnya darah umat muslim di mana-mana akibat kebiadaban AS, khususnya di Palestina, tambah Mahdi Akif.

Pernyataan Obama, Kamis lalu, tak akan berarti apa-apa, karena AS tidak menghentikan seluruh agresi militernya, tapi justru kejahatan dan agresi militer itu terus meningkat. Kejahatan AS itu meningkatkan instabilitas di mana-mana, hal itu disebabkan dukungan AS kepada Zionis-Israel yang tidak terbatas.

Prinsip hak-hak asasi manusia, dialog yang berlandaskan kesataraan dan saling menghormati serta kepercayaan, disisi lainnya, pidato Obama tidak memiliki landasan yang kuat”, ujar Akif. Menurut Mursyid ‘Aam Ikhwanul Muslimin itu, Obama tidak akan pernah memenangkan hati umat Islam, kalau hanya dengan kata-kata. Pemimpin AS itu ingin memperbaiki citranya di dunia Islam, berkaitan dengan tindakan militernya yang dilakukan AS terhadap Iraq, Afghanistan, Pakistan dan Palestina. Pertumpahan darah di dunia Islam itu, tak lain adalah agenda AS, yang dibelakangnya kepentingan Zionis-Israel.

Menurut Mahdi Akif, pernyataan yang paling menyakitkan dan menusuk umat Islam, yaitu dukungan Obama yang bersifat mutlak terhadap Israel. Deklarasi Obama yang memberikan dukungan keamanan kepada Israel, yang bersifat permanent itu, sangat melukai umat Islam. Karena, Israel tidak pernah sedikitpun menghentikan kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina. Israel melakukan pengkapan, pemenjaraan, penyiksaan, dan pembunuhan, dan terus berlangsung. Langkah baru dari pemerintahan Benyamin Netanyahu yang meningkatkan pemukiman Yahudi di Tepi Barat, serta penghancuran ribuan rumah penduduk Arab-Palistina, dan pengakuan Netanyahu bahwa Yerusalem tidak pernah akan dipisahkan dari Israel, membuktikan semuanya itu AS berada dibelakang Israel. Karena, AS tidak pernah dapat menghentikan langkah-langkah keji Israel. Obama hanyalah mengikuti para pendahulunya, yang selalu berada di belakang Israel.

Wartawan Mesir dari kalangan oposisi, Abdel Halim Kandil, menyatakan, ‘Pidato Obama isinya sangat umum’, ujarnya. Tidak seperti yang diharapkan dari kalangan Islamis, bahwa Obama akan benar-benar memperbaharui kebikajakannya atas dunia Islam. Sementara itu, Bahaiddin Hasan, Kepala Perwakilan Hak-Hak Asasi di Cairo, menyatakan, bahwa pidato Obama sifatnya hanya ‘superficial’. Pidato Obama yang berlangsung di Universitas Cairo, tak dapat mengubah apa-apa. Dan, tetap membiarkan rejim diktator Mubarak bercokol dan terus melancarkan kekejamannya. Bahkan, Kandil, yang menjadi yang koordinator kelompok opoisisi ‘Kepaya’ memboikot acara pidato Obama.

Obama berbicara demokrasi dan hak-hak asasi manusia, tapi membiarkan dan berkawan dengan para pemimpin diktator, dan membiarkan Israel terus melakukan kekejaman diatas penderitaan rakyat Palestina. Dibagian lain, Taliban menilai pidato Presiden AS, Obama itu, hanyalah ‘slogan yang menyesatkan’.

Dunia Islam tidak dengan sendiri akan berubah, akibat pidato Obama. Karena, kebijakan luar negeri AS, tidak berubah dari waktu-ke waktu, dan terus menjadikan Zionis-Israel sebagai patron mereka. (m/wb)


Dosa-Dosa AS Terhadap Dunia Islam

Selasa, 09/06/2009 10:04 WIB


Kemarau panjang luruh hanya oleh hujan satu hari. Itulah peribahasa yang mungkin pas untuk menggambarkan AS terhadap negara-negara Arab. Hanya dalam waktu sekejap, negara-negara Arab bisa dikatakan “tunduk” dan terkesima oleh kedatangan Barack Obama, presiden AS.

Obama, dalam pidatonya, mengatakan bahwa AS sama sekali tidak sedang berperang terhadap dunia Islam. Tapi pernyataannya ini sama sekali bertentangan dengan segala fakta yang telah terjadi selama ini. Dr. Ayman al-Zawarihi, seorang ulama internasional, mengatakan, karena pidato dan kunjungan itu, dunia Islam, terutama negara-negara Arab seperti melupakan “dosa-dosa” AS terhadap dunia Islam selama ini. “Apakah kita sudah melupakan siapa Amerika?”

Syeikh Nasir bin Hamad alFahd dari penjara mengatakan bahwa kejahatan Amerika terpampang dari Kabul sampai Mogadishu. Ia memaparkan beberapa “dosa” Amerika sebagai berikut:

1. Lebih dari satu juta anak-anak menjadi korban bom AS di Iraq. AS juga sudah memberlakukan embargo tanpa alasan yang jelas kepada Iraq selama lebih dari 10 tahun.

2. Ribuan bayi Iraq yang baru lahir mengalami kebutaan karena kekurangan hormon insulin.

3. Lebih dari setengah juta orang berharap bisa mengakhiri hidup mereka secepatnya karena sudah terkena racun radioaktif. Ini berkaitan dengan penggunaan uranium oleh militer AS.

4. Senjata AS sudah membunuh ribuan rakyat Palestina mulai segala tingkatan, perempuan dan anak-anak.

5. Ribuan pengungsi di Lebanon dan Palestina dibantai oleh Israel dengan dukungan dari Amerika.

6. Antara tahun 1412-1414 H, militer AS telah membantai ribuan warga sipil Somalia selama mereka melakukan invasi di negara itu.

7. Tahun 1419 H, Amerika meluncurkan misil yang menyerang Sudan dan Afghanistan, di mana mereka menghancurkan sebuah perusahaan obat-obatan dan membunuh tak kurang dari 200 orang.

8. Israel, dengan dukungan penuh dari Amerika, telah membunuh lebih dari 17.000 rakyat sipil Lebanon selatan.

9. Embargo Amerika terhadap Afghanistan telah menyebabkan 15.000 anak-anak Afghan meninggal. Belum lagi yang telah dilakukan oleh AS di Chechnya, Bosnia, Macedonia, Kosovo, Kashmir, Filifina, dan Negara-negara Muslim lainnya. (sa/alqmh)


La Ilaha Ill-Allah Dalam Kehidupan Pribadi Maupun Umum

Tuesday, 10/03/2009 23:13 WIB


Salah satu fenomena yang menjadi ciri khas jahiliyah modern ialah anggapan bahwa kehidupan pribadi boleh dan wajar berbeda dengan kehidupan umum. Semenjak runtuhnya sistem Islam 85 tahun yang lalu berupa pembubaran Kekhalifahan Turki Ustmani, maka kebanyakan kaum muslimin menerima tanpa protes sistem kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat alias sistem kafir. Di segenap negeri kaum Muslimin berdirilah nation-state alias negara-bangsa. Padahal semenjak 14 abad yang lalu saat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mewujudkan masyarakat dan negara Islam pertama di Madinah kaum Muslimin hanya mengenal dan meyakini bahwa kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang shahih haruslah berupa faith-state alias negara-aqidah.

Selama 14 abad Khilafah Islamiyyah berdiri, baik pada babak Kenabian, babak Khulafa Ar-Rasyidin maupun babak kerajaan-kerajaan Islam Bani Umayyah, Abbasiyyah dan Kesultanan Ustmani Turki, kaum Muslimin merasakan kehidupan pribadi dan umum yang bersinergi. Sebagai pribadi mereka berkeyakinan La Ilaha ill-Allah sedangkan secara sosial-politik mereka merasakan bahwa keyakinan tersebut pula yang menjadi standar perundang-undangan dan kehidupan sosial pada umumnya. Sudah barang tentu terdapat perbedaan kualitas penerapan dari zaman ke zaman. Penerapan terbaik adalah pada babak Kenabian dan Khulafa Ar-Rasyidin. Adapun pada babak kerajaan-kerajaan Islam penerapan syariat Islam sangat tergantung kepada person khalifahnya. Adakalanya khalifahnya berlaku adil seperti Umar bin Abdul Aziz, namun adakalanya berlaku zalim seperti mereka yang memenjarakan para ulama seperti yang dialami oleh Imam Ahmad bin Hambal. Tetapi betapapun zalimnya person khalifah namun eksistensi pemerintahan Islam dengan segenap hukum Allah yang berlaku dapat membatasi kezaliman sang khalifah.

Pada masa sistem khilafah berdiri kaum muslimin merasakan bahwa keyakinan La Ilaha ill-Allah di dalam hati bersinergi dengan nilai-nilai umum yang berlaku di masyarakat. Bersinergi dengan sistem sosial-politik-budaya yang ada di masyarakat dan negara. Sehingga dalam kehidupan umum kaum muslimin dapat merasakan betapa nilai-nilai Islam menjadi warna utama masyarakat. Apa yang dianggap baik dan buruk di tengah masyarakat merupakan apa yang baik dan buruk berdasarkan nilai-nilai Islam. Apa yang dipandang masyarakat sebagai legal dan ilegal bersumber dari apa yang dinilai Allah sebagai halal dan haram. Semua ini berlaku karena negara berdiri di atas landasan kesatuan aqidah Islamiyyah.

Pada masa sistem Islam tegak setiap muslim dapat bersegera menyambut seruan jihad fi sabilillah karena yang mengumumkannya adalah pemimpin masyarakat itu sendiri. Setiap warga berlomba ingin mendaftarkan diri untuk pergi menyambut seruan jihad dan merebut peluang mati syahid. Tidak ada keraguan di dalam masyarakat siapa yang menjadi saudara seperjuangan dan siapa yang sepatutnya diwaspadai sebagai lawan dan musuh ummat Islam.

Semenjak khilafah Islam dibubarkan lalu umat Islam hidup di bawah naungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang asing dari prinsip aqidah La Ilaha ill-Allah, maka mulailah kaum Muslimin mengalami disorientasi. Mulailah mereka tidak memandang aqidah La Ilaha ill-Allah sebagai pemersatu utama antar-warga di dalam masyarakat. Mulailah kaum Muslimin mengira bahwa ikatan kebangsaan dapat mempersatukan mereka. Padahal bagaimana mungkin kebangsaan dapat mempersatukan secara hakiki antar warga masyarakat bilamana urusan bangsa merupakan urusan yang bersifat primordial. Tidak mungkin seorang muslim bangsa Indonesia menyatu dengan seorang muslim bangsa Mesir sebab mereka berbeda bangsa.

Dalam sistem bernegara dewasa ini kaum Muslimin menganggap urusan aqidah La Ilaha ill-Allah sebagai urusan yang sepatutnya disimpan sebatas dalam diri pribadi masing-masing. Adapun ketika masuk ke dunia sosial ia harus mendahulukan kebangsaannya daripada aqidahnya. Bahkan di dalam sistem nation-state perkara aqidah dianggap sebagai penghalang utama terwujudnya kesatuan dan persatuan nasional. Itulah sebabnya para pengusung nasionalisme biasanya menganggap urusan aqidah sebagai perkara yang harus dipinggirkan bilamana ingin mewujudkan soliditas nasional.

Inilah kondisi yang sudah berjalan selama 85 tahun sejak dibubarkannya sistem khilafah Islam. Umat Islam menjadi laksana gelandangan yang kehilangan rumahnya. Tetapi karena gelandangan adalah manusia yang tetap merasa perlu memiliki tempat bernaung maka akhirnya mereka membangun bedeng-bedeng sebagai rumah darurat. Sistem nation-state yang ada dewasa ini merupakan bedeng-bedeng umat Islam. Ada bedeng khusus bangsa Mesir, ada bedeng khusus bangsa Saudi, ada bedeng khusus bangsa Malaysia dan ada bedeng khusus bangsa Indonesia. Namun sayangnya karena kelamaan hidup di dalam bedeng akhirnya sebagian besar umat Islam mulai lupa bahwa tempat tinggal mereka masih berupa bedeng alias rumah darurat. Mereka mulai merasa betah dan kerasan hidup di dalam bedengnya masing-masing. Sehingga tatkala ada yang mengingatkan agar berjuang mengusahakan kembali berdirinya rumah resmi sekaligus rumah syar’i umat Islam, malah mereka berkata: ”Ah rasanya, kami sudah cukup puas dengan tinggal di bedeng ini. Kami berpendapat inilah rumah kami yang sudah final...! Kami tidak perlu dan tidak mau pindah dari sini.”

Benarlah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ketika menggambarkan perjalanan sejarah Umat Islam dimana beliau mengatakan bahwa setelah babak kerajaan-kerajaan Islam alias kepemimpinan Mulkan Aadhdhon (Para Raja yang Menggigit) yang merupakan babak dimana Umat Islam masih dipimpin dengan sistem khilafah, maka sesudah itu Umat Islam akan memasuki babak paling kelam dalam sejarah Islam dimana akan bermunculan para Mulkan Jabriyyan (Para Penguasa yang memaksakan kehendak sekaligus mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya). Para Mulkan Jabriyyan akan memimpin umat Islam dengan sistem di luar sistem Islam. Babak tersebut merupakan babak dimana kita hidup dewasa ini.

Secara mendunia dewasa ini kita jumpai kehadiran para Mulkan Jabriyyan di panggung kepemimpinan berbagai negara, termasuk negeri-negeri kaum Muslimin. Mereka bercokol di kursi kekuasaan memimpin umat Islam dengan memaksakan hukum buatan manusia meninggalkan syariat dan hukum Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Mereka sangat bangga melestarikan sistem asing seperti Demokrasi dan Nasionalisme ala Barat seraya memandang remeh aqidah serta syariat yang bersumber dari Allah Yang Maha Tahu dan Maha Teliti PengetahuanNya.

Semua hal di atas menjadi lebih sempurna dengan hadirnya dukungan kebanyakan umat Islam itu sendiri yang memandang bahwa memang sudah semestinya di dalam kehidupan modern sistem selain Islam seperti Demokrasi diterapkan di dalam kehidupan umum bermasyarakat dan bernegara umat Islam. Mereka akhirnya beranggapan sudah tidak zamannya lagi ngotot memaksakan berlakunya syariat dan hukum Allah. Sudah tidak zamannya ngotot memaksakan kehidupan bermasyarakat mengikuti cara Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dalam mewujudkan dan mempertahankannya. Bahkan mereka berusaha semaksimal mungkin membenarkan sikap mereka dengan mencari dalil ayat dan hadits yang melegitimasi keserasian ajaran Islam dengan berbagai ideologi asing tersebut. Pahitnya lagi ketika akhirnya mereka sampai kepada kesimpulan bahwa ”Demokrasi dengan Islam tidak bertentangan”, malah yang mereka pilih dengan bangga adalah Demokrasi-nya bukan Islam-nya...!! Sungguh keadaannya sangat mirip dengan gambaran firman Allah sebagai berikut:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا

وَجَدْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

”Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab: "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?” (QS Al-Maidah ayat 104)

Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami tunduk kepada nilai-nilai selain ajaranMu baik dalam urusan pribadi maupun umum. Ya Allah, betapapun dominannya nilai-nilai dan ideologi kuffar dewasa ini dalam kehidupan umum, janganlah Engkau biarkan hati kami sedetikpun turut mengakui apalagi memuliakannya.




Sikap Umum Yahudi Bila Diajak Masuk Islam

Sunday, 25/01/2009 10:31 WIB


Di masa Nabi ada seorang pendeta Yahudi bernama Hushain bin Salam bin Harits. Ia percaya bahwa Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam merupakan Nabi di akhir zaman sebagimana diterangkan dalam riwayat Taurat dan Injil. Setelah kedatangan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ke Madinah iapun masuk Islam. Setelah memeluk Islam Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengubah namanya menjadi Abdullah bin Salam. Di bawah ini kami cuplik kisahnya berkenaan dengan hubungannya dengan kaum Yahudi sebagaimana ditulis oleh Munawar Chalil dalam bukunya ”Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad”.

Untuk membuktikan bahwa kaum Yahudi itu pendusta dan pengkhianat terhadap kebenaran, maka pada suatu hari Abdullah bin Salam diam-diam datang ke rumah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Ia minta kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jika kaum Yahudi datang agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menanyakan pendapat mereka tentang dirinya (Abdullah bin Salam). Ia juga minta izin kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar dirinya boleh bersembunyi di suatu bilik saat kaum Yahudi bertemu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Setelah kaum Yahudi berhadapan muka dengan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam, beliau bertanya: ”Bagaimana keadaan seorang lelaki yang bernama Hushain bin Salam?” Mereka berkata: ”Ia ada dalam kebaikan.”

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bertanya pula: ”Bagaimana pendapat kamu tentang dirinya?”

Mereka menjawab: ”Menurut kami, ia adalah tuan kami dan anak lelaki tuan kami. Ia adalah sebaik-baik orang kami dan sebaik-baik anak lelaki orang kami. Ia adalah semulia-mulia orang kami dan anak lelaki dari seorang yang paling alim dalam golongan kami, karena dewasa ini di kota Madinah tidak ada seorangpun yang melebihi kealimannya tentang kitab Allah (Taurat).”

Mereka terus memuji-muji Abdullah bin Salam. Setelah itu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Jadi, Hushain bin Salam itu adalah seorang dari golongan kalian yang paling terpandang segala-galanya menurut pendapat kalian?”

Mereka menjawab: ”Benar, Muhammad.”

Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berseru: ”Hai Hushain bin Salam keluarlah!”

Keluarlah Abdullah bin Salam lalu mendekat ke Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan berseru kepada kaumnya: ”Hai golongan orang-orang Yahudi, hendaklah kalian semua takut kepada Allah! Terimalah dengan baik segala apa yang telah datang kepada kamu! Demi Allah, sesungguhnya kalian telah tahu bahwa beliau ini adalah pesuruh Allah yang kalian telah temukan dan kenali sifat-sifatnya di dalam kitab agama yang ada di sisi kalian. Sesungguhnya saya telah menyaksikan bahwa beliau ini adalah nabi dan pesuruh Allah sebab memang sebelumnya saya telah mengenal sifat-sifat beliau seperti tersebut dalam kitab Taurat. Maka kini saya telah percaya kepadanya, membenarkan segala yang dibawanya dan mengikuti semua seruannya.”

Mendengar ucapan Abdullah bin Salam, mereka dengan sangat menyesal menjawab: ”Oh tuan berdusta! Mengapa tuan berani berkata begitu?”

Abdullah menjawab: ”Celakalah kalian semua! Takutlah kalian kepada Allah! Apakah kamu semua tidak mengenal sifat-sifat beliau ini dalam kitab Tauratmu?”

Mereka berkata: ”Tidak! Tuanlah yang berdusta! Tuan adalah sejelek-jelek orang dari golongan kita! Sebab Tuan sekarang sudah beragama lain!”

Kemudian mereka pergi. Lalu Abdullah berkata kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam: ”Inilah yang saya khawatirkan, ya Rasulullah. Bukankah saya telah menuturkan sebelumnya kepada Tuan bahwa kaum Yahudi adalah pendusta, pembohong, pengkhianat dan pendurhaka?”

Maka pada saat itu juga Allah wahyukan kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ayat berikut:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ كَانَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَكَفَرْتُمْ بِهِ وَشَهِدَ شَاهِدٌ مِنْ بَنِي

إِسْرَائِيلَ عَلَى مِثْلِهِ فَآَمَنَ وَاسْتَكْبَرْتُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

”Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut dalam) Al Qur'an lalu dia beriman, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim".(QS Al-Ahqaf ayat 10)

Setelah kabar keislaman Abdullah bin Salam tersiar di kalangan kaum Yahudi, maka mereka dengan congkak dan sombong mengata-mengatai, mencaci-maki, menghina, menjelek-jelekkan dan memusuhinya dengan sekeras-kerasnya. Pada suatu hari di antara pendeta-pendeta Yahudi ada yang berkata kepada yang lainnya dan perkataan itu sengaja ditujukan kepada Abdullah bin Salam, di antaranya: ”Tidak akan seseorang yang percaya kepada Muhammad dan seruannya melainkan orang yang seburuk-buruknya dan serendah-rendahnya. Orang yang paling baik dan paling mulia dari golongan kita tidak akan berani meninggalkan agama pusaka nenek moyangnya dan mengikuti agama lain, dari golongan lain dan bangsa lain. Jadi, barangsiapa dari golongan kita sampai mengikuti agama Muhammad teranglah bahwa ia seorang yang sejahat-jahatnya di kalangan kita.”

Abdullah bin Salam tidak menghiraukan segala ucapan dan hinaan mereka itu. Lalu sehubungan dengan peristiwa ini Allah wahyukan kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ayat-ayat berikut:

لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آَيَاتِ اللَّهِ آَنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ

”Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang). Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menerima pahala) nya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 113-115)

Saudaraku, demikianlah sikap kaum Yahudi pada umumnya bilamana diajak kepada agama Allah. Mereka tidak memiliki obyektifitas sedikitpun bila diajak untuk menerima hidayah dan kebenaran. Mereka sangat keras kepala dan membabi buta mempertahankan ideologi rasialisme dan fanatisme kelompok. Sehingga orang yang semula mereka katakan baik dan mulia serta-merta mereka hina dan caci bilamana orang tersebut menerima kebenaran agama Islam yang berarti harus meninggalkan agama asalnya, yaitu Yahudi.

Sikap ekstrim kaum Yahudi bukan hanya terjadi di masa lalu di masa Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Namun hingga hari ini sikap serupa menjadi kekhasan kaum Yahudi sebagaimana dilukiskan oleh Joseph Cohen seorang mantan Yahudi Ortodoks kelahiran AS yang menemukan Islam justru setelah ia hijrah ke Israel (lihat Dakwah Mancanegara: Yahudi AS Pindah Ke Israel dan Masuk Islam). Setelah masuk Islam, Cohen mengganti namanya dengan nama Islam Yousef al-Khattab. Menurut dia, berdakwah tentang Islam di kalangan orang-orang Yahudi bukan pekerjaan yang mudah. Bahkan ketika ditanya tentang kelompok-kelompok Yahudi yang anti Zionis, ia berkata "Dari sejarahnya saja, mereka adalah orang-orang yang selalu melanggar kesepakatan. Mereka membunuh para nabi, oleh sebab itu saya tidak pernah percaya pada mereka, meski Islam selalu menunjukkan sikap yang baik pada mereka".


Berdusta Atas Nama Da’wah Islam

Friday, 12/12/2008 23:09 WIB


Berlaku shiddiq atau jujur merupakan salah satu nilai utama dalam ajaran Islam. Shiddiq merupakan salah satu karakter utama Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Sedemikian utamanya nilai shiddiq sehingga Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan dalam sebuah hadits betapa besar manfaatnya:

إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا

“Sesungguhnya shiddiq (jujur) mengantarkan seseorang kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan seseorang kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang yang (terus-menerus) berlaku jujur akan ditetapkan sebagai shiddiqan (orang yang jujur).” (HR Muslim 5629)

Berlaku jujur terus-menerus akan menyebabkan pelakunya terbimbing untuk selalu berbuat kebaikan. Orang yang jujur adalah orang yang setia dengan nilai-nilai kebaikan. Dan bila hidupnya telah diisi dengan rangkaian perbuatan kebaikan dengan sendirinya ia telah menginvestasikan bekal untuk memasuki surga Allah ta’aala di akhirat kelak. Demikian pesan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam yang tidak pernah berdusta.

Lebih jauh lagi Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bahkan memberi kabar gembira kepada para shiddiqin (orang-orang jujur) bahwa jika kebiasaan berlaku jujur sudah menjadi karakter utama dirinya, maka Allah ta’aala akan menempatkan orang tersebut sebagai shiddiqan atau orang yang diberi sertifikasi oleh Allah ta’aala sebagai ”orang yang jujur”. Subhanallah...! Betapa besarnya penghargaan yang diterima seorang yang jujur. Semoga Allah ta’aala karuniakan hal ini kepada saya dan Anda...!

Namun sebaliknya, seorang yang terus-menerus sibuk dalam berdusta maka dirinya akan terbimibing untuk berbuat dosa dan pelanggaran. Orang yang berdusta memiliki kecenderungan untuk berfihak kepada pelanggaran dan dosa. Ia memandang perbuatan dosa sebagai perkara ringan bahkan menyenangkan. Dan bila hidupnya telah sarat dengan rangkaian pelanggaran dan dosa, maka secara otomatis orang itu sedang memesan tiket untuk menghuni neraka Allah ta’aala di akhirat kelak. Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan bahwa barangsiapa yang sudah terbiasa berdusta sehingga banyak berbuat pelanggaran dan dosa, maka itu berarti ia bakal distempel oleh Allah ta’aala menjadi kadzdzaaban alias ”tukang berdusta.”

وَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Dan sesungguhnya berdusta akan mengantarkan seseorang kepada kejahatan (dosa dan pelanggaran). Dan sesungguhnya kejahatan mengantarkan seseorang kepada neraka. Dan sesungguhnya seseorang yang (terus-menerus) berdusta akan ditetapkan sebagai kadzdzaaban (tukang berdusta).” (HR Muslim 5629)

Di zaman penuh fitnah dewasa ini hampir setiap hari kita dijejali dengan janji-janji yang dilontarkan oleh para pejabat publik. Termasuk janji-janji yang dilontarkan oleh para calon presiden dan para calon wakil rakyat yang sedang sangat sibuk berkampanye. Lalu pengalaman membuktikan bahwa sebagian besar janji yang dilontarkan pada masa kampanye tidak kunjung ditepati ketika akhirnya terpilih menjadi pejabat publik. Kejadian seperti ini umum sekali terjadi. Bukan hanya di negeri kita, melainkan di seantero planet ini yang sedang mempertontonkan sandiwara berpolitik yang sarat nilai-nilai kebohongan dan tipudaya. Urusan ini bukan hanya terjadi di negeri yang masih di tahap awal berdemokrasi. Bukan semata ditemukan di Indonesia, tapi dapat dijumpai pula di negeri seperti Amerika Serikat. Coba lihat kasus paling anyer yang menimpa Gubernur negara bagian Illinois.

Mendapati para pejabat publik yang dengan santainya mengingkari janji-janji muluk yang pernah mereka lontarkan menimbulkan rasa muak di dalam diri kebanyakan manusia yang merindukan atmosfir kejujuran dan kesungguhan. Namun bilamana perilaku berdusta justru didemonstrasikan oleh para pejabat publik yang dikenal luas sebagai politisi yang berjuang atas nama Da’wah Islam, maka sungguh kemuakan yang ditimbulkannya menjadi berlipat ganda. Tidakkah mereka menyimak ayat Allah ta’aala di bawah ini?

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah ta’aala bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS Ash-shaff ayat 2-3)

Bagaimana mungkin seorang yang mengatasnakmakan Da’wah Islam dalam perjuangannya dengan ringannya mengatakan bahwa ideologi tidak lagi menjadi persoalan? Bagaimana mungkin dengan ringannya ia mempromosikan faham Nasionalisme dan Pluralisme padahal ia semestinya fihak yang paling sadar dan mengerti bahaya yang terkandung di dalam faham-faham tersebut? Bagaimana mungkin ia dengan ringannya mengangkat sebagai pahlawan sosok-sosok manusia yang sesungguhnya telah mempertontonkan perilaku zalim dalam masa hidupnya?

Saudaraku, sungguh berdusta akan mengantarkan seseorang kepada rangkaian perbuatan jahat. Berdusta dalam bentuk apapun. Namun, pertanyaannya saat ini ialah rangkaian kejahatan macam apa lagi yang akan dilakukan seseorang atau sekelompok orang bilamana mereka berdusta atas nama Da’wah Islam?

Ya Allah, lindungilah kami dari berbagai jenis kejahatan yang terang-terangan maupun yang samar lagi berlindung di balik nama Da’wah di jalanMu. Amin.

Nasib Penghujat Islam Dalam Catatan Siroh Nabawiyah

Selasa, 25/11/2008 14:26 WIB


Dalam bukunya berjudul ”Pedang Terhunus Bagi Penghujat Rasul” (”AsSarim al Maslul ’ala Shatim arRasul”), Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan sebuah pelajaran penting dari Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Dalam tulisan tersebut dijelaskan bahwa seorang pemuka Yahudi ahli syair warga Madinah bernama Ka’ab bin Al-Asyraf dibunuh oleh seorang sahabat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bernama Muhamad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu. Ia dibunuh karena telah menulis puisi yang menghujat Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Ceritanya, setelah berita kekalahan kaum musyrikin Quraisy menghadapi pasukan Islam di dalam perang Badar sampai ke Madinah, maka Ka’ab berkata: ”Jika berita ini benar, maka berada di bawah tanah lebih baik bagi kami daripada di atasnya.” Artinya, ia merasa dirinya lebih baik mati daripada hidup setelah kekalahan kaum kuffar Quraisy. Lalu Ka’ab bin Al-Asyraf membuat syair-syair berisi ratapan atas kekalahan kaum musyrikin tersebut. Di dalamnya juga memuat hujatan terhadap Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan kaum muslimin. Lalu pergilah ia ke Mekkah untuk menampilkan puisinya dan turut berduka cita bersama kaum musyrikin Mekkah. Bahkan kaum muslimat juga ia lecehkan di dalam syairnya. Maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:

من لي بكعب بن الأشرف فإنه قد أذى الله و رسوله

”Siapakah yang mau menangani Ka’ab bin Al-Asyraf karena ia sungguh telah mengganggu Allah dan RasulNya?”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu, salah satu dari orang-orang Ansar dari suku Aus berkata: ”Saya akan melakukannya Wahai Rasulullah..! Apakah Anda ingin saya untuk membunuh dia?”.

Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjawab: ” Ya!”

Muhammad bin Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu telah memberikan suatu janji; ia telah berjanji dengan lisannya bahwa ia akan membunuh Ka’ab bin Al-Asyraf!

Ia pulang ke rumah dan mulai berpikir tentang tugas tersebut dan mulai menyadari bahwa untuk mewujudkannya ternyata tidaklah ringan. Ka’ab tinggal di sebuah benteng di kawasan Yahudi dikelilingi para pendukungnya sehingga sangat, sangat sulit untuk membunuhnya..! Dia mulai menjadi prihatin memikirkannya. Suatu keprihatinan yang melalaikannya dari makan dan minum kecuali sekedar untuk bertahan hidup. Selama tiga hari ia praktis tidak makan dan minum...!

Berita ini sampai ke Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Lalu ia panggil Muhammad bin Maslamah radhiyallahu 'anhu dan bertanya: ”Ada apa denganmu, Muhammad bin Al-Maslamah? Benarkah kamu berhenti makan dan minum?”

Ia menjawab: ”Benar, ya Rasulullah.”

”Mengapa?” tanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

Ia menjawab: ”Aku telah berjanji sesuatu yang aku sendiri pertanyakan. Akankah aku sukses melakukannya dan memenuhinya?”

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda:

انما عليك الجهد

“Yang dituntut darimu hanyalah kesungguhan, sisanya serahkanlah kepada Allah Yang Maha Kuasa.”

Subhanallah...! Lihatlah semangat dan kesungguhan para sahabat. Tidak bisa makan atau minum bila menghadapi keadaan seperti itu. Baginya hal ini merupakan perkara sangat serius. Ia telah berjanji dan khawatir tidak dapat memenuhi janjinya. Ia tidak sanggup meneruskan hidupnya seperti biasanya sebelum Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan agar ia memenuhi bagiannya dan menyerahkan sisanya kepada Allah. Barulah ia merasa terhibur dan bisa makan dan minum kembali...!

Akhirnya datanglah Muhammad Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dengan suatu rencana, namun ia minta izin terlebih dahulu: ” Wahai Rasulullah, untuk menjalankan rencana ini izinkanlah saya berbicara terhadap anda!” (Bagian dari rencananya ia akan berbicara negatif tentang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di hadapan Ka’ab)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Katakanlah apa yang anda ingin!”

Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu dan sekelompok kecil dari orang-orang Ansar dari suku Aus, pergi menjumpai Ka’ab bin Al-Asyraf guna mengatur perangkap baginya. Mereka berkata kepada Ka’ab: ”Lelaki ini –maksudnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam - merupakan ujian Allah bagi kita semua. Ia masalah. Ia musibah. Dan bangsa Arab telah memerangi kita dan memusuhi kita karena dia.”

Ka’ab menjawab: ”Sudah kukatakan pada kalian sebelumnya. Kalian akan lihat keadaan bakal menjadi lebih buruk.”

AlMaslamah radhiyallahu 'anhu berkata: ”Ka’ab, semenjak kehadiran lelaki ini keadaan keuangan kami telah memburuk. Kami ingin pinjam uang darimu dan menitipkan jaminan.”

Ka’ab menjawab: ”Serahkan anak-anak kalian padaku.”

Mereka berkata: ”Kami tinggalkan anak-anak kami kepadamu sebagai jaminan untuk pinjaman yang tidak seberapa, maka itu akan menjadi aib bagi mereka seumur hidup.”

Ka’ab melanjutkan: ”Bila demikian, serahkanlah wanita kalian.”

Mereka berkata: ”Bagaimana kami serahkan kaum wanita kami kepada Anda sedangkan Anda lelaki paling tampan? Sudahlah, kami akan menjaminkan kepada Anda persenjataan kami.” Ka’ab berujar: ”Baiklah, setuju.”

Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu menjebaknya agar pada kunjungan berikutnya Ka’ab tidak akan curiga bila mereka datang membawa senjata. Maka mereka buat perjanjian untuk pertemuan berikutnya di malam hari karena lebih kondusif.

Maka pada malam yang disepakati Ka’ab datang menemui AlMaslamah radhiyallahu 'anhu. Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu bilang kepada kawan-kawannya: ”Jika kalian melihat aku memegang kepalanya itulah pertanda saatnya kalian menyerang dia dengan pedang-pedang kalian.”

Ketika Ka’ab berjumpa dengan AlMaslamah radhiyallahu 'anhu ia diajak untuk berjalan-jalan ke tempat nostalgia mereka dahulu. Yaitu tempat mereka dahulu biasa menghabiskan waktu ketika AlMaslamah radhiyallahu 'anhu masih jahiliyah, yaitu di Sya’ab al A’juz. Suatu tempat di pinggir kota menjauhi benteng Yahudi.

Saat tiba di tempat tujuan AlMaslamah berkata kepada Ka’ab: ”Harum nian aroma yang muncul dari rambutmu. Boleh aku menciumnya dari dekat?” (Ka’ab rupanya menggunakan parfum beraroma sejenis kesturi sebagai minyak rambutnya).

Ka’ab berkata: ”Silakan.”

Ia pegang kepalanya dengan kuat dan berdatanganlah kawan-kawannya menyerang Ka’ab dengan pedang mereka. Tapi serangan tersebut tidak cukup mematikannya. Ka’ab-pun menjerit memohon pertolongan. Benteng Yahudi mulai menyala pertanda warganya terbangun. Dengan sigap Al-Maslamah radhiyallahu 'anhu mengeluarkan belati dan menusuk dalam-dalam perut Ka’ab hingga belatinya mencapai tulang pinggangnya...!

Demikianlah Muhammad bin AlMaslamah radhiyallahu 'anhu beserta beberapa pemuda Aus menangani orang yang menghujat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam...!

Kemudian keesokan harinya, datanglah kaum Yahudi bersama beberapa kaum musyrik menemui Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam. Mereka berkata: ”Salah seorang yang terhormat dari kalangan kami telah dibunuh semalam! Dan ia dibunuh secara licik. Bukan bertarung satu lawan satu. Ia dibunuh secara diam-diam dan tiba-tiba..!” Mereka selanjutnya berkata: ”Ia telah dibunuh tanpa sebab tindak kriminal apapun yang telah dilakukannya...!”

Mereka mempertanyakan mengapa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh padahal terdapat perjanjian damai yang telah disepakati antara Rasulullah dengan kaum Yahudi di Madinah. MENGAPA? BAGAIMANA INI BISA TERJADI?

Apa jawab Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ? Beliau bersabda:

انه لو قر كما قر غيره ممن هو على مثل رأيه مغتيل و لكنه نال منا الأذى و هجانا بشعر و لم يفعل هذا احد منكم الا كان السيف

“Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi dia telah mengganggu kami dan menghujat kami dengan puisinya, dan tidak ada seorangpun di antara kalian yang melakukan hal semacam itu kecuali kami akan tangani dengan pedang!”

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa banyak orang yang keyakinan di dalam hatinya mirip dengan Ka’ab bin Al-Asyraf, ia bukan dibunuh karena itu! Ia bukan dibunuh karena ia tidak percaya, ia tidak dibunuh karena ia membenci Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, ia tidak dibunuh karena membenci kaum muslimin. TIDAK...! Banyak orang lain yang mempunyai penyakit hati seperti itu namun tidak dibunuh, mereka dibiarkan hidup. “Jika dia berlaku tenang, seperti orang lain yang pendapatnya sama dengan pendapatnya, tentu dia tidak akan dibunuh! Tetapi ia telah berbicara menentangku dan mengumpatku,” demikian Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.

Lalu Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan sejelas mungkin kepada kaum Yahudi: ”Jika salah seorang di antara kalian, kaum Yahudi atau musyrikin, mencoba untuk mengumpatku melalui ucapannya demikianlah kami akan tangani dia. Tidak ada di antara kami dengan kalian selain pedang..! Tidak akan ada dialog, tidak ada pengampunan, tidak ada jembatan, tidak akan ada upaya rekonsiliasi. Hanya ada pedang di antara saya dengan kalian..!” Dan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menegaskan hal ini sejelas-jelasnya. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengajak kaum Yahudi dan musyrikin menanda-tangani dokumen kesepakatan yang memuat perjanjian bahwa mereka tidak akan berbicara menentang beliau.

Ibnu Taimiyah berkata: ”Ini merupakan bukti bahwa mengganggu Allah dan RasulNya merupakan alasan untuk mendorong kaum muslimin membunuh siapa saja yang melakukan gangguan tersebut meskipun mereka punya perjanjian dengan kaum muslimin.”

Sebagian orang berusaha memelintir pelajaran dari cerita Siroh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam ini dengan berpendapat bahwa Ka’ab ibn Al-Asyraf dibunuh karena ia menganjurkan kaum musyrik Mekkah untuk memerangi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, bukan karena kata-katanya.

Ibnu Taimiyah menegaskan: ”TIDAK! Ia dibunuh karena syairnya yang ditulisnya dan dibacakannya bahkan sebelum ia pergi ke Mekkah.” Jadi tidak ada kaitannya karena ia pergi ke Mekkah dan menganjurkan mereka memerangi kaum muslimin. Ka’ab bin Al-Asyraf telah dibunuh semata-mata karena puisinya...!

Ibnu Taimiyah melanjutkan: ”Semua yang dilakukan Al-Asyraf ialah mengganggu dengan lidah. Meratapi terbunuhnya kaum kuffar, dukungannya kepada mereka untuk berperang, kutukan dan umpatannya dan ucapannya merendahkan agama Islam dan mengutamakan agama kaum kafir, semua ini ialah ucapan dengan lidahnya. Inilah hujjah-bukti terhadap siapapun yang berselisih pendapat tentang isyu-isyu seperti ini. Jelaslah tidak ada perlindungan dengan cara apapun bagi darah manusia yang mengganggu Allah dan RasulNya melalui puisi dan umpatan.”

Wallahu a’lam bish-showwaab.-

(Dikutip dari sebagian ceramah berjudul "The Dust Will Never Settle Down" Syaikh Anwar Al-Awlaki)


Sabar Dalam Tahap Membangun Fondasi La Ilaha ill-Allah

Senin, 16/03/2009 23:09 WIB


Ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat berda’wah di Mekkah sebelum hijrah ke Madinah, mereka memfokuskan da’wah Islam kepada urusan membangun fondasi kokoh berupa aqidah yang bersumber dari kalimat La ilaha ill-Allah. Mereka tidak bergesar dari tema fundamental ini karena mereka menyadari bahwa untuk mengubah masyarakat jahiliyyah tidak mungkin dilakukan kecuali dengan membongkar dari fondasinya kepercayaan, ideologi dan konsepsi masyarakat tersebut. Segenap kerusakan moral, ketimpangan sosial-ekonomi, impotensi kepemimpinan dan kezaliman sistem politik serta hukum bersumber dari ketidak-jelasan ideologi, kepercayaan dan konsepsi yang dimiliki masyarakat jahiliyyah. Sehingga percuma saja dilakukan upaya perbaikan bila dilakukan dengan semangat dan metode tambal-sulam. Diperlukan suatu langkah perombakan mendasar sebelum dilakukan upaya perbaikan pada dimensi moral, sosial-ekonomi, kepemimpinan, politik dan hukum yang berlaku. Oleh karena itu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dengan tekun dan sabar menyerukan da’wah yang menitikberatkan pada pelurusan kepercayaan, ideologi dan konsepsi. Sebagaimana para Nabi dan Rasul lainnya beliau menyerukan pesan universal dan abadi yaitu:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu". (QS An-Nahl ayat 36)

Tidak ada seorang Nabi maupun Rasul kecuali mengajak umatnya masing-masing untuk memerdekakan diri dari penghambaan manusia kepada sesama manusia (yaitu Thaghut) untuk hanya menghambakan diri kepada Allah semata. Sembahlah Allah semata dan jauhilah Thaghut...! Dan sepanjang sejarah bilamana wujud suatu masyarakat jahiliyyah niscaya suburlah kehadiran aneka thaghut di dalam masyarakat tersebut. Sebaliknya bilamana berdiri suatu masyarakat berlandaskan kepercayaan, ideologi dan konsepsi aqidah Tauhid La ilaha ill-Allah, maka bersihlah masyarakat itu dari eksistensi thaghut. Seluruh masyarakat menyembah dan mengesakan Allah secara komprehensif, baik dalam aspek peribadatan, mu’amalat, hukum dan perundang-undangan maupun kepemimpinan. Berjalanlah masyarakat tersebut sarat dengan perlombaan dalam kebaikan menjunjung tinggi nilai-nilai dan hukum Rabbani. Tidak ada yang dipatuhi dan diberikan loyalitas pada prioritas pertama dan utama selain Allah Subhaanahu wa Ta’aala.

Selama mayoritas warga di dalam masyarakat masih tenggelam dalam kejahiliyyahan maka Nabi shollallahu ’alaih wa sallam terus menganjurkan seruan kalimat La Ilaha ill-Allah. Sebab inti kejahiliyyahan terletak pada kepercayaan, ideologi dan konsepsi yang mengakui dan menerima penghambaan manusia kepada sesama manusia, mematuhi para pemimpin yang tidak menjadikan Allah semata sebagai sumber utama pengabdian, loyalitas dan kepatuhan, baik dalam urusan ritual-peribadatan, nilai-nilai moral maupun sistem hukum dan perundang-undangan. Artinya, tidak mungkin sesaatpun Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memandang urusan pembenahan kepercayaan, ideologi dan konsepsi masyarakat menjadi perkara usang alias out of date apalagi jadul (urusan jaman dulu) sebelum tampak perbaikan hal ini pada mayoritas masyarakat yang menjadi sasaran da’wah beliau.

Tetapi resiko menempuh jalan menyerukan kalimat La Ilaha ill-Allah di dalam suatu masyarakat jahiliyyah ialah menghadapi reaksi keras penentangan. Inilah yang dialami oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam dan para sahabat. Dan ini pulalah yang akan dialami oleh siapapun yang konsisten menyerukan hal serupa di negeri manapun di zaman kapanpun. Sehingga bila tidak cukup sabar menempuhnya pastilah akan tergoda untuk mencari jalan lain yang kiranya bisa mendatangkan resiko yang lebih ringan bahkan diyakini bisa mendatangkan percepatan meraih kemenangan da’wah. Sahabatpun sempat mengalami kondisi seperti itu. Di antaranya apa yang tergambar dalam hadits berikut:

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ قُلْنَا لَهُ أَلَا تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلَا تَدْعُو اللَّهَ لَنَا قَالَ كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الْأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ لَا يَخَافُ إِلَّا اللَّهَ أَوْ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Dari Khabab bin Al-Arat ia berkata: ”Kami mengeluh di hadapan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam saat beliau sedang bersandar di Ka’bah. Kami berkata kepadanya: ”Apakah engkau tidak memohonkan pertolongan bagi kami? Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam kemudian bersabda: ”Dahulu seorang lelaki ditanam badannya ke dalam bumi lalu gergaji diletakkan di atas kepalanya dan kepalanya dibelah menjadi dua namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Dan disisir dengan sisir besi sehingga terkelupaslah daging dan kulitnya sehingga tampaklah tulangnya namun hal itu tidak menghalanginya dari agamanya. Demi Allah, urusan ini akan disempurnakanNya sehingga seorang penunggang kuda akan berkelana dari San’aa ke Hadramaut tidak takut apapun selain Allah atau srigala menerkam dombanya, akan tetapi kalian tergesa-gesa!” (HR Bukhary 3343)

Khabab merupakan salah seorang sahabat yang mendapat penyiksaan luar biasa dari kaum musyrikin semenjak ia masuk Islam. Ia datang kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengeluhkan nasib para sahabat yang mengalami hal serupa dengan dirinya. Ia hanya memohon Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mendoakan para sahabat tersebut, agar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memohon pertolongan Allah bagi mereka. Ia tidak sampai mengusulkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar merubah strategi berjuangnya. Ia tidak sedang menyatakan protesnya terhadap jalan penuh resiko karena menyerukan kalimat La Ilaha ill-Allah. Ia hanya memohon Nabi shollallahu ’alaih wa sallam agar mendoakan para sahabat agar mendapat pertolongan Allah.

Namun demikian, keluhan Khabab telah dibalas dengan jawaban tegas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan Khabab akan tabiat jalan da’wah yang telah ditempuh orang-orang beriman sepanjang masa. Ini bukanlah jalan melewati taman-taman bunga. Ini bukan jalan bagi mereka yang menyengaja merekayasa jalan da’wah agar menghasilkan berbagai kemudahan dan kesenangan duniawi. Ini bukan jalan bagi mereka yang ingin segera memperoleh kemenangan da’wah dengan meninggalkan seruan asli da’wah Islam yaitu proklamasi umum pembebasan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menjadi penghambaan manusia kepada Allah semata. Ini bukan jalan bagi mereka yang demi kekuasaan rela mengaburkan seruan La Ilaha ill-Allah menjadi seruan lain, seperti Nasionalisme atau Sosialisme atau bahkan Moralisme.

Ya Allah, teguhkanlah pendirian kami di atas jalanMu. Karuniakanlah sabar sejati di dalam diri kami. Peliharalah istiqomah kami dalam proyek pembangunan Tauhid di dalam diri, keluarga dan masyarakat kami.






Sabar Dalam Tahap Membangun Fondasi La Ilaha ill-Allah

Senin, 16/03/2009 23:09 WIB



Beda Israel Dengan Negara Lain

Kamis, 04/06/2009 15:55 WIB




Di semua negara-negara lain, pemenang selalu mengeruk keuntungan, namun di negara Yahudi, Israel, pemenang cenderung kehilangan. Contohnya adalah Tzipi Livni yang memenangkan pemilu 2009 namun gigit jari karena tidak mendapatkan apa-apa.

Di semua negara-negara lain, golongan kananlah yang mengeluarkan kebijakan, namun di negara Yahudi, yang dimaksud dengan pemerintah "kanan" adalah mereka dari golongan kiri.

Di semua negara-negara lain, para tetamu negara yang mengadakan kunjungan resmi mengucapkan kata-kata hormat dan sopan, namun di Negara Yahudi, semua tamu diwajibkan mendoakan eksistensi Yahudi dan melayani tuan rumah.

Di semua negara-negara lain, kedua belah pihak menaati semua perjanjian yang dibuat, di Israel, orang Arab diabaikan, sementara hanya orang-orang Yahudi yang boleh tinggal untuk menandatangani perjanjian.

Di semua negara-negara lain, setiap pihak yang sedang dalam proses negosiasi, memberikan atau menerima sesuatu, namun di Negara Yahudi, pihak Arablah yang harus memberi kepada orang-orang Yahudi.

Di semua negara-negara lain, pengusiran dari kelompok populasi tertentu disebut sebagai "pembersihan etnis" dan para pelakunya dihukum karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan - tetapi di negara Yahudi, yang disebut "pengusiran" untuk para pemukim asli adalah hukuman yang wajar dan normatif.

Di semua negara-negara lain, gagasan membersihkan seluruh daerah dari orang Yahudi (Judenrein) dikecam sebagai anti-Yahudi atau anti-Semit, namun di Negara Yahudi, gagasan menghapus semua orang Pasletina dari daerahnya adalah sah dan harus dilakukan.

Di semua negara lainnya, partai-partai yang bermusuhan memberlakukan blokade satu sama lain, namun di Negara Yahudi, musuh-musuh kaum Yahudi disuap dengan dengan bahan bakar, air, listrik, makanan, uang, dan obat-obatan. Contohnya Fattah dengan Mahmud Abbasnya. (sa/yn)


Al-Anfal, Ayat 19, dan Pidato Obama

Rabu, 10/06/2009 09:46 WIB




Di Universitas Cairo yang terkenal itu, Obama berbicara. Ia mengajak Amerika Serikat dan umat Islam sedunia memulai sebuah hubungan baru. Hubungan yang berdasarkan mutual respect dan mutual interest. Mengakhiri, apa yang ia sebut sebagai “sebuah lingkaran kecurigaan dan perselisihan”. Pidatonya merupakan sebuah antithesis terhadap pengantar Presiden Bush pada National Security Strategy (2006), yang menyatakan Amerika dalam keadaan perang, dan melegalkan tindakan apapun untuk mengeliminir ancaman terhadap AS.

Ayman al-Zawahiri, wakil pemimpin Al Qaeda, mungkin representasi suara sebagian umat muslim, telah melihat propaganda AS yang bertolakbelakang dengan aksi di lapangan: berbicara demokrasi dan kebebasan dengan menjatuhkan bom ke pemukiman penduduk. Ia tidak percaya AS berubah karena sampai saat ini, pesan kekerasan masih diterima oleh umat Islam. Bahkan, rencana Obama untuk menutup Guantanamo ditolak oleh Kongres. Sesuatu yang ia janjikan pada masa kampanyenya, yang menyebabkan ia terpilih, ditolak oleh perwakilan rakyatnya.

Benarkah Obama akan menepati ucapannya ?

Yang pasti, sejarah membuktikan, pendekatan AS selama ini salah besar. Hanson dan Schmidt (2007) menunjukkan, pada kasus Irak, “ Jumlah operasi militer yang dilakukan pasukan AS berkorelasi tinggi terhadap jumlah serangan balik yang lebih banyak pada masa mendatang, serangan yang dimaksud untuk menghancurkan kekuatan lawan, hanya menjadi alat rekrutmen bagi lawan”. Oleh karenanya, biaya melakukan serangan militer selalu melebihi benefit yang diperoleh, suatu hal yang sederhana dan sudah diperingatkan bahkan oleh sebagian publik AS sendiri. Sebuah thesis yang sebenarnya tidak perlu dibuktikan dengan pengalaman empiris AS di Irak.

Di Afghanistan pun, mereka akan terjebak apabila tetap menggunakan cara yang sama. Wawancara Sunday Times dengan Amir Sultan Tarar, veteran intelijen Pakistan, mengingatkan pemerintahan AS untuk mengedepankan jalan negosiasi terhadap Taliban dan tidak mengulangi kesalahan mereka di Irak.“The Taliban will not win but in the end the enemy will tire” “.. and the more you kill, the more supporters will come.”

Lantas, bagaimana sebaiknya reaksi umat Islam terhadap pidato Obama tersebut ?

Para ekonom mengenal Game Theory. Sebuah theori yang mempelajari bagaimana para agen ekonomi bertindak dengan memperhitungkan tindakan yang akan diambil lawannya. Strategi terbaik pada kondisi ini adalah tit for tat. Di mana suatu pihak harus menggunakan strategi kooperatif pada awalnya, dan respon selanjutnya akan ditentukan oleh aksi dari lawan. Strategi yang diperkenalkan oleh Anatol Rapoport pada tahun 1980 ini, sudah sejak lama dikenal oleh umat Islam melalui Surat Al Anfal ayat 19. Surat yang diturunkan berkaitan dengan momen perang Badar.

"Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu, dan jika kamu berhenti (memusuhi Rasul), maka itulah yang lebih baik bagimu, dan jika kamu kembali niscaya Kami kembali (memberi pertolongan), dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikitpun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh Allah beserta orang-orang yang beriman". ( Al-Anfal:19)

Masa depan hubungan umat Islam dengan Pemerintah Amerika Serikat, sangat ditentukan oleh konsistensi perkataan Obama dengan tindakannya di lapangan. (Rizky A.Hakim)


Mantan Pentolan Pink Floyd Dukung Penghancuran Tembok Apartheid Israel

Rabu, 10/06/2009 05:55 WIB


Mantan pentolan group band rock Pink Floyd, Roger Waters menaruh perhatian besar terhadap tembok pemisah yang dibangun rezim Zionis Israel di Tepi Barat. Ia menyatakan sudah tidak sabar untuk menyaksikan tembok yang melambangkan penindasan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina itu dirubuhkan.

Musisi asal Inggris itu mengungkapkan kegemasannya melihat tembok yang oleh para aktivis perdamaian disebut sebagai "tembok apartheid", saat mengunjungi kamp pengungsi Palestina di Jenin yang letaknya tak jauh dari tembok pemisah itu. Ia mengaku kerap memikirkan agar tembok itu dihancurkan sejak pertama kali melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri di sela-sela konsernya di Israel tahun 2006.

"Orang yang belum pernah melihat tembok itu, tidak akan pernah bisa membayangkan apa sebenarnya yang terjadi di sini, tidak pernah bisa membayangkan penindasan yang terjadi di sini, tidak akan pernah bisa merasakan rasa muak yang akan muncul di hati Anda yang paling dalam ketika melihat semua ini, sebuah situasi yang membuat orang depresi," komentar Waters soal tembok pemisah Israel di Tepi Barat.

Oleh sebab itu, Waters menyatakan dirinya ingin sekali menyaksikan detik-detik tembok pemisah itu dihancurkan sama ketika ia menyaksikan penghancuran tembok pemisah di Berlin, Jerman.

Israel membangun tembok pemisah yang membelah wilayah Tepi Barat, antara kota Yerusalem dan Bethlehem sejak tahun 2002 dengan alasan demi keamanan Israel. Israel merampas tanah-tanah milik rakyat Palestina untuk keperluan pembangunan tembok pemisah yang oleh dunia internasional sudah dinyatakan ilegal itu.

Waters menyatakan tidak percaya dengan alasan keamanan yang diajukan Israel untuk membangun tembok apartheid tersebut. Ia meyakini Israel membangun tembok itu bukan untuk keamanan warga Israel, karena faktanya Israel tetap menindas rakyat Palestina di daerah pendudukan dan di kawasan pemukiman Yahudi.

"Israel memisahkan para petani Palestina dari kebun-kebun zaitun mereka dan melakukan penindasan lainnya. Tembok ini adalah sebuah praktek kolonialisme," kecam Waters.

"Ketika Anda berdiri di depan bangunan tinggi seperti, entah itu di sini atau dimanapun di Afrika Selatan, atau di kamp Warsawa pada masa Perang Dunia II, atau di Berlin pada era tahun '60-an dan '70-an, tembok ini adalah sebuah kesalahan, sesuatu yang buruk dan tidak boleh bertahan selamanya," tukas Waters yang memisahkan diri dari group band Pink Flyod pada tahun 1985. (ln/mol)

Penduduk Desa : Militer Thailand Terlibat Pembantaian

Rabu, 10/06/2009 08:54 WIB


Setelah kejadian 'pembantaian' umat Islam di masjid Senin malam yang lalu yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal, pemerintah Thailand justru menyalahkan kelompok-kelompok pejuang Muslim yang ada di Thailand selatan.

Pemerintah Thailand sendiri mengaku mereka telah membangun sebuah "kesepakatan yang lebih baik" dengan penduduk kampung dan semuanya dilaksanakan di bawah undang-undang dan sesuai dengan "hak-hak azazi manusia", kata jenderal Anupong Paojinda sambil menambahkan bahwa para pejuang muslim Thailand telah melakukan kesalahan dengan menyerang aparat keamanan.

Pemerintah Thailand langsung meminta jenderal Anupong Paojinda untuk terbang ke wilayah tersebut setelah kejadian penembakan umat Islam disebuah masjid di Provinsi Narathiwat.

Bagaimanapun penduduk desa tetap menyalahkan pasukan tentara Thailand atas serangan berdarah itu, yang merupakan satu dari kejadian terburuk yang pernah terjadi di wilayah Thailand selatan.

Penduduk kampung Cho Ai-rong mengatakan mereka menduga kuat bahwa ada keterlibatan militer Thailand dalam pembantaian di masjid daripada keterlibatan pejuang Muslim.

"Saya yakin tidak mungkin ada pejuang Muslim yang tega menembak orang yang lagi sholat Isya di Masjid karena hal itu sangat sakral dan bertentangan dengan agama Islam," kata salah seorang penduduk kampung yang meminta namanya dirahasiakan sewKtu diwawancara.

Lebih dari 1000 orang penduduk kampung berkumpul di dekat masjid di Cho Ai-rong pada hari Selasa kemarin untuk melihat lokasi kejadian serangan dan untuk menghadiri sholat jenazah para syuhada.

Penduduk lokal mengumpulkan tubuh ke delapan orang yang wafat termasuk imam masjid, pada pagi selasa kemarin kemudian memandikan dan mengkafani mereka untuk di sholatkan sebelum nantinya dimakamkan.

Kelompok-kelompok HAM sebelumnya telah menyalahkan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan tentara Thailand di wilayah selatan negeri itu, termasuk penggunaan kekerasan yang berlebihan pada tahun 2004 dimana terjadi pengepungan masjid yang dilakukan tentara Thailand dan mengakibatkan 32 orang meninggal.(fq/wb)


Keutamaan Qiyamul-Lail

Selasa, 23/09/2008 18:47 WIB


Hendaknya ummat Islam memanfaatkan sebaik mungkin kesempatan Ramadhan yang sangat berharga, terutama di sepuluh malam terakhir. Jangan ada satu malampun di bulan suci Ramadhan yang tidak diisi dengan kegiatan sholat malam.

Ramadhan merupakan bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa di dalamnya sedangkan Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam sunnahkan kaum muslimin melaksanankan qiyamul-lail (sholat malam/ sholat tahajjud).

َقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ رَمَضَانَ
شَهْرٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صِيَامَهُ وَإِنِّي سَنَنْتُ لِلْمُسْلِمِينَ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ إِيمَانًا
وَاحْتِسَابًا خَرَجَ مِنْ الذُّنُوبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ (أحمد)

Bersabda Rasululah shollallahu ’alaih wa sallam, "Sesungguhnya Ramadhan adalah bulan di mana Allah ta’aala wajibkan berpuasa dan aku sunnahkan kaum muslimin menegakkan (sholat malam). Barangsiapa berpuasa dengan iman dan dan mengharap ke-Ridhaan Allah ta’aala, maka dosanya keluar seperti hari ibunya melahirkannya." (HR Ahmad 1596)

Perlu diketahui bahwa sholat malam diperintahkan Allah ta’aala khusus kepada Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam melalui firmanNya sbb:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Israa ayat 79)

Tetapi seluruh ummat Islam disyariatkan mencontoh kepada perbuatan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Sepatutnya setelah Ramadhan berlalu hendaknya kita terus mengerjakan qiyamullail ini. Sebab Allah ta’aala menjelaskan bahwa orang-orang yang menjaga sholat malam, itulah sebenarnya orang yang berhak dan layak menerima kebaikan serta rahmat-Nya.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ آَخِذِينَ مَا آَتَاهُمْ رَبُّهُمْ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَلِكَ مُحْسِنِينَ كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

”Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan di mata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah).” (QS Adz-Dzaariyaat ayat 15-18)

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan ummatnya untuk mengerjakan sholat malam sambil menjelaskan bahwa kegiatan mulia tersebut merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sejak zaman dahulu. Di samping itu ternyata sholat malam menghasilkan banyak manfaat sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ قِيَامَ اللَّيْلِ
قُرْبَةٌ إِلَى اللَّهِ وَمَنْهَاةٌ عَنْ الْإِثْمِ وَتَكْفِيرٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنْ الْجَسَدِ


Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda : “Kerjakanlah sholat malam sebab ia merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu pada zaman dahulu. Ia juga merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ta’aala, sebagai penebus amal kejahatan-kejahatanmu, pencegah dosa dan penangkal penyakit pada badan.” (HR Tirmidzi 3472)

Bahkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam memasukkan orang yang biasa sholat malam sebagai kelompok yang dijamin bakal masuk surga, tempat kenikmatan abadi yang Allah ta’aala sediakan bagi hamba-hambaNya yang sholeh.

أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

“Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, jalinlah hubungan silaturrahim, sholatlah di waktu malam tatkala orang-orang masih tidur, pasti kamu semua masuk surga dengan selamat dan sejahtera.” (HR Tirmidzi 2409)

Saudaraku, tidakkah kita ingin selalu dekat dengan Allah ta’aala? Tidakkah kita berambisi untuk meraih tebusan Allah ta’aala atas segala amal kejahatan yang pernah kita lakukan? Tidakkah kita merasa perlu memiliki pencegah dari melakukan dosa dalam diri kita? Dan tidakkah kita ingin selalu mempunyai penangkal saat penyakit badan muncul? Kemudian saudaraku, tidakkah kita ingin masuk surga Allah ta’aala dan hidup kekal dalam kenikmatan tiada tara itu?

Marilah, saudaraku, kita senantiasa hidupkan qiyamullail, baik di bulan Ramadhan maupun di luarnya.


Disiplin Sholat Lima Waktu

Selasa, 14/10/2008 22:42 WIB



Di antara ciri menonjol muttaqin (orang-orang bertaqwa) ialah rajin menegakkan sholat sebagaimana diperintahkan Allah ta’aala dan dicontohkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

“Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS AlBaqarah ayat 2-3)

Muttaqin menyadari bahwa sholat merupakan bukti keimanan yang sangat signifikan. Dan mereka sangat menyadari betapa besar akibatnya bila seseorang dengan sengaja meninggalkan sholat wajib lima waktu tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan orang yang meninggalkan sholat sebagai terlibat dalam kekufuran bahkan kemusyrikan!

سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلَاةِ

“Aku mendengar Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Sesungguhnya antara seorang lelaki dan kemusyrikan serta kekufuran ialah meninggalkan sholat.” (HR Muslim 116)

Malah dalam hadits lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam berlepas diri dari orang yang dengan sengaja melalaikan kewajiban sholat. Sehingga beliau mengatakan bahwa tindakan tersebut akan menghilangkan jaminan Allah ta’aala dan RasulNya atas orang itu pada hari berbangkit kelak.

عَنْ أُمِّ أَيْمَنَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَتْرُكْ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَإِنَّهُ مَنْ تَرَكَ الصَّلَاةَ مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرِئَتْ مِنْهُ ذِمَّةُ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Dari Ummu Aiman radhiyallahu ’anha bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jangan kamu tinggalkan sholat dengan sengaja. Karena sesungguhnya barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja maka sungguh lepaslah darinya perlindungan Allah ta’aala dan RasulNYa.”(HR Ahmad 26098)

Dan perlu diketahui bahwa urusan paling awal yang akan Allah ta’aala periksa atas hamba-hambaNya pada hari pengadilan ialah sholatnya. Barangsiapa yang sholatnya dikerjakan dengan baik maka beruntunglah dia, dan sebaliknya barangsiapa yang sholatnya dinilai kurang, maka kekurangannya hanya bisa ditutup bila hamba tersebut punya simpanan sholat sunnah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَلَاتُهُ فَإِنْ وُجِدَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتُقِصَ مِنْهَا شَيْءٌ قَالَ انْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ لَهُ مِنْ تَطَوُّعٍ يُكَمِّلُ لَهُ مَا ضَيَّعَ مِنْ فَرِيضَةٍ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ سَائِرُ الْأَعْمَالِ تَجْرِي عَلَى حَسَبِ ذَلِكَ

“Sesungguhnya hal pertama yang diperhitungkan dari seorang hamba Allah ta’aala pada hari kiamat ialah sholatnya. Jika didapati ia sempurna maka ia dicatat sebagai sempurna. Jika didapati terdapat kekurangan, maka dikatakan ”Coba lihat adakah ia memiliki sholat sunnah yang dapat melengkapi sholat wajibnya?” Kemudian segenap amal perbuatannya yang lain diproses sebagaimana sholatnya. (HR AnNasai)

Saudaraku, tegakkanlah sholat wajib lima waktu dengan disiplin. Sebab Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengatakan bahwa sholat wajib akan menghapuskan segenap kesalahan seorang muslim laksana daun yang berguguran dari sebatang pohon.

فَقَالَ:"إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا تَوَضَّأَ، فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ، ثُمَّ صَلَّى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ تَحَاتَّتْ خَطَايَاهُ، كَمَا تَحَاتَّ هَذَا الْوَرَقُ"، ثُمَّ تَلا هَذِهِ الآيَةَ: {أَقِمِ الصَّلاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114] .

“Seorang muslim bila berwudhu dan ia baguskan wudhunya kemudian ia sholat lima waktu, maka berguguranlah kesalahannya seperti bergugurannya daun ini.” Kemudian beliau membaca ayat sbb: “Tegakkanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat”. (HR Thabrani 6028)

Saudaraku, usahakanlah sedapat mungkin untuk selalu menegakkan sholat wajib lima waktu berjamaah di masjid, khususnya bagi kaum pria muslim. Sebab ahli fiqih dari kalangan para sahabat, yaitu Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan bahwa orang yang sholatnya dikerjakan di rumah –bukan di masjid- berpotensi untuk menjadi sesat dari jalan Allah ta’aala.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ

Ibn Mas’ud radhiyallahu ’anhu berkata: “Barangsiapa ingin bertemu Allah ta’aala esok hari sebagai seorang muslim, maka ia harus menjaga benar-benar sholat pada waktunya ketika terdengar suara adzan. Maka sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta’aala telah mensyari’atkan (mengajarkan) kepada Nabi shollallahu ’alaih wa sallam beberapa SUNANUL-HUDA (perilaku berdasarkan hidayah/petunjuk) dan menjaga sholat itu termasuk dari SUNANUL-HUDA. Andaikan kamu sholat di rumah sebagaimana kebiasaan orang yang tidak suka berjama’ah berarti kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Dan bila kamu meninggalkan sunnah Nabimu Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam pasti kamu tersesat.” (HR Muslim 1046).

Bahkan dalam hadits yang sama, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan bahwa pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam masih hidup tidak ada orang yang sengaja tidak sholat berjamaah di masjid kecuali orang munafiq yang tidak diragukan kemunafiqannya. Na’udzubillahi min dzaalika..!

وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ

Dan sungguh dahulu pada masa Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam tiada seorang tertinggal dari sholat berjama’ah kecuali orang-orang munafiq yang terang kemunafiqannya.” (HR Muslim 1046).


Rahasia Do’a Mengatasi Hutang

Rabu, 29/10/2008 10:29 WIB


Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu bertutur: “Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

Doa ampuh yang diajarkan Nabi shollallahu ’alaih wa sallam kepada Abu Umamah radhiyallahu ’anhu merupakan doa untuk mengatasi problem hutang berkepanjangan. Di dalam doa tersebut terdapat beberapa permohonan agar Allah ta’aala lindungi seseorang dari beberapa masalah dalam hidupnya. Dan segenap masalah tersebut ternyata sangat berkorelasi dengan keadaan seseorang yang sedang dililit hutang.

Pertama, ”Ya Allah aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih.” Orang yang sedang berhutang biasanya mudah menjadi bingung dan tenggelam dalam kesedihan. Sebab keadaan dirinya yang berhutang itu sangat potensial menjadikannya hidup dalam ketidakpastian alias bingung dan menjadikannya tidak gembira alias berseduih hati.

Kedua, ”Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas.” Biasanya orang yang berhutang akan cenderung menjadi lemah. Dan biasanya orang yang malas dan tidak kreatif dalam menjalani perjuangan hidup cenderung mudah berfikir untuk menacari pinjaman alias berutangketika sedikit saja menghadapi rintangan dalam hidup. Sedangkan orang yang rajin cenderung tidak berfikir untuk berhutang selagi ia masih punya ide solusi selain berhutang dalam hidupnya. Orang rajin bahkan akan menolak bilamana memperoleh tawaran pinjaman uang karena ia anggap itu sebagai suatu beban yang merepotkan.

Ketiga, ”Aku berlindung kepada Engkau dari sifat pengecut dan kikir.” Biasanya orang yang terlilit hutang menjadi orang yang diliputi rasa takut. Ia cenderung menjadi pengecut. Jauh dari sifat pemberani. Mentalnya jatuh dan tidak mudah memiliki kemantapan batin. Dan orang yang berhutang mudah menjadi kikir jauh dari sifat demawan. Bila kotak amal atau sedekah melintas di depannya ia akan membiarkannya berlalu Hal ini karena ia menggunakan logika ”Bagaimana aku bisa bersedekah, sedangkan hutangku saja belum lunas.”

Keempat, ”Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Doa bagian akhir mengandung inti permohonan seorang yang terlilit hutang. Ia serahkan harapannya sepenuhnya kepada Allah ta’aala Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji agar menuntaskan problem hutang yang berkepanjangan membebani hidupnya. Di samping itu ia memohon agar dirinya dilindungi Allah ta’aala dari kesewenang-wenangan manusia. Kesewenangan dimaksud terutama yang bersumber dari fihak yang berpiutang. Sebab tidak jarang ditemukan bahwa fihak yang berpiutang lantas bertindak zalim kepada yang berhutang. Ia merasa telah menanam jasa dengan meminjamkan uang kepada yang berhutang. Lalu ia merasa berhak untuk berbuat sekehendaknya kepada yang berhutang apalagi jika yang berhutang menunjukkan gejala tidak sanggup melunasi hutangnya dengan segera.

Itulah sebabnya dunia modern dewasa ini banyak diwarnai oleh berbagai tindak kezaliman. Sebab dalam era dunia modern manusia sangat mudah berhutang. Dalam kebanyakan transaksi manusia dianjurkan untuk terlibat dalam hutang alias transaksi yang tidak tunai. Sedikit sedikit kredit. Apalagi skema pelunasan hutangnya melibatkan praktek riba yang termasuk dosa besar. Islam adalah ajaran yang menganjurkan manusia untuk membiasakan diri bertransaksi secara tunai. Ini bukan berarti Islam mengharamkan berhutang. Hanya saja Islam memandang bahwa berhutang merupakan suatu pilihan yang bukan ideal dan utama. Itulah sebabnya ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an ialah ayat mengenai berhutang, yaitu surah Al-Baqarah ayat 282.

Suatu ketika Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu didatangi anaknya yang hendak meminjam uang. Lalu ia berkata kepadanya ”Nak, aku tidak punya uang.” Lantas anaknya mengusulkan agar ayahnya pinjamkan dari Baitul Maal (Simpanan Kekayaan Negara). Maka Umar-pun menulis memo kepada pemegang kunci Biatul Maal yang isinya: ”Wahai bendahara, tolong keluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk aku pinjamkan ke anakku. Nanti biar aku cicil dengan potong gajiku tiga bulan ke depan.”

Maka memo tersebut dibawa oleh anaknya dan diserahkan kepada bendahara. Tidak berapa lama iapun kembali menemui ayahnya dengan wajah murung. ”Ayah, aku tidak menerima apa-apa dari bendahara kecuali secarik kertas ini untuk disampaikan kepadamu.” Maka Umar menyuruh anaknya membacakan isi memo balasan itu. Isinya ”Wahai Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, bagiku sangatlah mudah untuk mengeluarkan sekian dinar dari Baitul Maal untuk engkau pinjam. Namun aku minta syarat terlebih dahulu darimu. Aku minta agar engkau memberi jaminan kepadaku bahwa tiga bulan ke depan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab masih hidup di dunia untuk melunasi hutang tersebut.” Maka Umar langsung beristighfar dan menyuruh anaknya pulang...!